AUXILIARIES VERBS
Auxiliaries verbs atau kata kerja Bantu merupakan kata yang bersifat melakukan atau membantu kata kerja penuh (full verb) . Kata kerja itu menjelaskan kepada kita tentang sesuatu kejadian . Macam dan penggunaan auxiliaries verbs diterangkan sebagai berikut:
(1) Shall
Shall digunakan untuk menunjukkan keakanan (futurity) dalam kalimat:
- Salah: I shall going to Bandung tomorrow.
- Benar: I shall go to Bandung tomorrow.
(Saya akan pergi ke Bandung besok).
- Salah : We shall buys a new house in Jakarta.
- Benar: We shall buy a new house in Jakarta.
(Kami akan membeli sebuah rumah baru di Jakarta).
Selain itu dipakai untuk menunjukkan ketekadan hati, janji, perintah, kewajiban atau ancaman, seperti contoh berikut ini:
Salah : I shall doing in spite the danger.
Benar : I shall do in spite the danger.
(Saya akan melakukannya meskipun bahaya).
Salah : I shall doing in spite the danger.
Benar :If she pass the examination, she shall get a motorcycle. (Bila
ia lulus ujian, ia akan mendapatkan sepeda motor).
Salah : I shall doing in spite the danger.
Benar :I shall ask him to teach me to swim. (Aku akan memintanya untuk mengajari berenang).
Salah : I shall doing in spite the danger.
Benar : I shall do in spite the danger.
Salah : Every citizen shall paying the tax.
Benar : Every citizen shall pay the tax. (Setiap warga negara harus membayar pajak).
Salah : I shall doing in spite the danger.
Salah: You shall be punish if you do it again.
Benar: You shall be punished if you do it again.
(Engkau akan dihukum kalau melakukan itu lagi).
(Dalam tata bahasa Inggris lama shall selalu berpasangan dengan subjek I dan we (dan will dengan you, he, she. It dan they) namun dalam pemakaian modern aturan ini tidak berlaku lagi).
(2) Should
Should sering digunakan dalam arti:
a. Sebagai bentuk past tense dari shall, terutama sering kita jumpai dalam kalimat tidak langsung (indirect speech):
- She said that I should visit her tomorrow. (Ia mengatakan bahwa saya akan mengunjunginya besok).
- He said that they should discuss the matter next day. (Ia berkata bahwa mereka akan mendiskusikan materi itu hari berikutnya).
b. Untuk menunjukkan perintah lunak (softened command), dalam hal ini should sama artinya dengan ought (lihat tentang ought).
- You should study harder. (Anda seyogyanya belajar lebih keras).
- You should go today. (Engkau seharusnya pergi hari ini).
c. Menunjukkan nasihat (advice):
- You should obey your parents. (Anda seharusnya mematuhi orang tua anda).
- You should eat more fruit. (Anda harus makan lebih banyak buah-buahan).
d. Menunjukkan kewajiban (duty):
- You should pay your debt. (Engkau seharusnya membayar utang-utangmu).
- One shouldn’t tell lies. (Siapapun tidak boleh dusta).
e. Menunjukkan kemungkinan (probability):
- If it should rain, I will stay at home. (Jika hari hujan, saya akan tinggal di rumah).
- You should find the book on the table. (Anda mungkin menemukan buku itu di atas meja).
f. Untuk mengungkapkan kesimpulan logis (logical conclusion):
- Kattystudied French for years. She should speak very well. (Kita sebenarnya tidak yakin apakah Kattysudah bisa bercakap-cakap bahasa Prancis dengan baik, tetapi berdasarkan kesimpulan kita (karena telah belajar bahsa Prancis bertahun-tahun), sekarang tentu Katty sudah baik).
(3) Will
Will akan digunakan untuk menunjukkan keakanan (futurity) dalam kalimat:
- He will come here tomorrow. (Ia akan datang kesini besok).
- I will go abroad next year. (Saya akan pergi ke luar negeri tahun depan).
Selain itu will digunakan untuk:
a. Menunjukkan kemauan (volution):
- I will help you. (Saya mau menolong anda).
- I will give you one of these pills. (Saya hendak memberikan kepada anda satu dari pil-pil ini).
b. Menyatakan kebenaran abadi (Timeless truth):
- Oil will float on water. (Minyak akan mengapung di atsas air).
(Selain itu will bisa berfungsi sebagai ordinary verbs (will – willed – willed) maupun sebagai noun. Mari kita lihat contoh berikut ini:
- She will most of his money to her son. (Ia meninggalkan (warisan) uang banyak kepada puteranya).
- Before one dies he usually writes down his will. (Sebelum seseorang meninggal, ia biasanya menulis surat wasiat).
- Where there is a will, there is a way. (Dimana ada kemauan, di sana ada jalan).
(4) Would
Would sering digunakan untuk:
a. Bentuk past tense dari will terutama sering kita jumpai dalam kalimat tidak langsung (indirect speech):
- She said that she would come with you. (Ia mengatakan bahwa ia akan datang bersama anda).
- I said I would get back soon. (Saya mengatakan bahwa saya akan segera kembali).
b. Menunjukkan kebiasaan di masa lampau:
- When she was a girl, her mother would tell her stories. (Ketika ia masih kanak-kanakm ibunya suka bercerita kepadanya).
c. Mempersopan/memperhalus permohonan:
- Would you mind helping me? (Sudikah anda menolong saya).
- Would you kindly tell me the way to the station? (Sudikah tuan mengatakan kepada saya jalan ke stasiun).
d. Menunjukkan karakteristik seseorang atau sesuatu yang telah diduga sebelumnya:
- You would come late, when Iwant to leave early. (Kamu mungkin datang terlambat, jika saya ingin berangkat lebih awal).
- Se would be about 70 when she died. (Dia mungkin berusia 70 tahun ketika meninggal).
(5) Can
Can sering digunakan untuk:
a. Menyatakan kesanggupan atau kemahiran (abilty) seseorang:
- Can you speak Arabic? (Dapatkah anda berbicara bahasa Arab?).
- I cannot swim in the river. (Saya tidak bisa berenang di sungai itu).
- She can write a poetry. (Ia bisa menggubah puisi).
b. Menyatakan ijin (permission):
- You can phone from her house. (Anda bisa menelepon dari rumah dia).
- You can go home now. (Anda bisa pulang sekarang).
c. Menyatakan kemungkinan (possibility):
- She can be a doctor. (Ia bisa menjadi seorang dokter).
- He can get to thr top of the mountain in the day. (Ia dapat mencapai puncak gunung itu pada suatu hari).
(Can juga bisa berfungsi sebagai kata kerja biasa (can – canned – canned) yang berarti memasukkan ke dalam kaleng/mengalengkan dan kata benda yang berarti kaleng:
- They are canning fish. (Mereka sedang mengalengkan ikan).
- They can can fish into a can. (Mereka bisa mengalengkan ikan ke dalam kaleng).)
(6) Could
Could sering dipakai untuk:
a. Bentuk past tense dari can, terutama sering kita temui dalam kalimat tidak langsung (indirect speech):
- She asked if I could get up early. (Ia menyarankan supaya saya bangun lebih awal).
- I said I could write a short story one day. (Saya bisa menulis sebuah cerpen dalam satu hari).
b. Menyatakan kemampuan (ability) mengerjakan sesuatu dengan sesuatu persyaratan, yang mungkin tidak ada. Could disini tidak selalu mengacu kepada masa silam, tapi bisa terjadi dimasa kini ataupun masa datang:
- She could sing now, if she wanted to. (Ia bisa menyanyi sekarang bila ia mau).
- He could climb the tree when he was young. (Ia dapat memanjat pohon itu ketika ia masih muda).
- She could write a letter. (Ia bisa menulis sepucuk surat). Dalam kalimat ini terdapat pengertian bahwa ia bisa menulis surat tetapi ia tidak/belum menulis surat ketika si penutur itu mengatakannya.
c. Meminta ijin (permission), disini terasa could lebih sopan daripada can dan may:
- Could you please help me? (sudikah anda menolong saya?).
- Could I see your tickets? (Dapatkah saya melihat tiket anda?).
(Can dan could juga bisa bisa diganti oleh be able to, terutama untuk menyatakan ikhtiar atau usaha yang keras untuk melakukan sesuatu:
1. I am able to pay her debt. (Saya sanggup membayar hutangnya).
2. Our baby will be able to walk in few weeks. (Bayi kami akan berjalan dalam beberapa minggu ini).
1. Will you be able to help me? (Akan sanggupkah anda menolong saya?).
(7) May
May dipakai untuk:
a. Meminta dan memberi ijin:
- May I go home now? Yes, you may. (Bolehkah saya pulang sekarang? Ya, boleh?).
- May I come in? (Bolehkah saya masuk?).
- May I smoke here? (Bolehkah sya merokok disini?)
(Dalam kalimat negatif (negative sentence) may bisa berarti dua macam: (a) Penolakan ijin untuk melakukan sesuatu; dan (b) Bila not-nya mendapat tekanan (stress) artinya ijin untuk tidak melakukan sesuatu. Perhatikan kedua contoh berikut ini:
· You may not go home now.
- Engkau tidak diijinkan pulang sekarang).
b. Menyatakan kemungkinan (possibility):
- It may rain tonight. (Malam ini mungkin hujan).
- Yossy may know Thomas’s address. (Yossy mungkin tahu alamat Thomas).
- Iwan may come late. (Iwan mungkin datang terlambat).
(Kita juga mesti bisa membedakan antara may be dan maybe, keduanya memang menunjukkan kemungkinan, yang satu (may be) auxiliary verb, sedangkan yang kedua adalah adverb of probability. Perhatikan contoh berikut ini:
- She may be in Bandung. (Ia mungki ada di Bandung).
- Maybe they have understood. (Mungkin mereka sudah mengerti).
c. Menyatakan permohonan/hasrat dan do’a:
- May you be happy! (Semoga engkau senang).
- May God bless you! (Semoga Tuhan memberkatimu).
- Mou may help me wash up. (Barangkali anda bisa menolong saya mencuci).
(8) Might
Might digunakan untuk:
a. Bentuk past tense dari may (terutama dipakai dalam kalimat tidak langsung/indirect speech) dan berdasarkan urutan tenses (squence of tenses); misalnya bila kata kerja dalam induk kalimat past tense, maka dalam anak kalimat mesti menggunakan might:
- They said we might wait at the station. (Mereka mengatakan bahwa kita bisa menunggu di stasiun).
- She asked if she might see the letter. (Ia bertanya bolehkah ia melihat surat itu).
- He told me I might go home now. (Ia mengatakan bahwa saya boleh pulang sekarang).
b. Meminta ijin dengan nada yang lebih sopan dan formal daripada dengan may, can dan could:
- Might I know ypur name? (Bolehkah saya mengetahui nama anda?)
- Might I come in? (Bolehkah saya masuk?).
c. Menyatakan kemungkinan (possibility) (dengan nada yang lebih lemah daripada may):
- Today might rain. (Hari ini mungkin hujan).
- I might be late. (Saya mungkin terlambat).
Dan jika might dipakai dengan pola might + have + past participle berarti kemungkinan atau keraguannya itu terjadi dimasa lampau:
- He might have sold his house. (Ia mungkin sudah menjual rumahnya).
- She might have been very sad. (Ia mungkin sangat berduka).
- They might have gone. (Mereka mungkin telah pergi).
(9) Must
Must sering digunakan untuk:
a. Menunjukkan kewajiban, kemestian atau keharusan dari pikran si pembaca:
- I must study English. (Saya harus belajar bahasa Inggris).
- You must help each other. (Engkau harus tolong menolong satu sama lain).
- We must do our duty. (Kami harus melakukan tugas kami).
b. Mengungkapkan kesimpulan logis yang tidak bisa dipungkiri kebenarannya atau untuk menunjukkan suatu dugaan yang kuat kebenarannya:
- You must be tired after your tennis match. (Anda tentunya lelah setelah pertandingan tenis).
- Lebaran must be happy day. (Lebaran tentunya menjadi hari yang menggembirakan).
- One must eat to live. (Seseorang harus makan untuk hidup).
- She must be in Bandung. (Ia mungkin berada di Bandung).
Bentuk must not menegatifkan ordinary verbs dan mengandung arti larangan melakukan sesuatu:
- You mustn’t smoke here. (Anda dilarang merokok disini).
- She must not be late. (Dia tidak boleh terlambat).
(Catatan: mustn’t berarti harus tidak dan bukan berarti tidak harus atau sama dengan jangan).
Sedangkan untuk menegatifkan auxiliary must, kita harus menggunakan needn’t:
- Must he go?
Yas, he must.
No, he needn’t dan tidak boleh menggunakan: No, he mustn’t.
Auxiliary must tidak mempunyai bentuk past tense, karena itu untuk menunjukkan suatu kegiatan yang terjadi dimasa lampau kita harus menggunakan had to:
- She must study hard. (present tense).
- She had to study hard last month. (past tense). Juga dipakai dalam kalimat tidak langsung (indirect speech):
- She said that she had to study hard. (Ia mengatakan bahwa ia harus belajar giat).
Had to berasal dari bentuk present tense have to. Keduanya bukan auxiliary (sekalipun bisa menggantikan auxiliary must), melainkan sebagai ordinary verb.
Dalam bentuk present tense, have to berbeda dengan must:
(a) Must menunjukkan kewajiban atau keharusan itu keluar dari pikiran atau nurani si pembicara. (Kaji kembali contoh-contoh di atas tadi).
(b) Sedangkan have to menunjukkan keharusan atau kemestian itu datang dari luar diri si pembaca, misalnya karena peraturan, paksaan atau tekanan.
Perhatikan contoh di bawah ini:
- You have to study hard. (Engkau harus belajar giat).
- We have to come before sunset. (Kami harus kembali sebelum matahari terbenam).
(10) Ought
Ought (to) sering dipakai untuk:
a. Menunjukkan kewajiban, kemestian atau keharusan yang terjadi dimasa lampau, kini atau pun masa mendatang:
- I ought to finish my homework next week. (Saya mesti menyelesaikan pekerjaan rumah minggu depan).
- She ought to be here now. (Ia mestinya berada disini sekarang).
(Perbedaan antara must dan ought (to) terletak dari segi makna keharusan yang terkandung di dalamnya. Must menunjukkan arti tidak boleh tidak harus tetap dilaksanakan, sedangkan ought: memungkinkan untuk tidak melaksanakan:
- She must go now. (Ia harus pergi sekarang).
- She ought to go now. But she won’t. (Ia harus pergi sekarang, tetapi ia tidak mau).
- She must go now, but she won’t.
b. Menunjukkan perintah lunak atau saran.
- You ought to attend the lecture. (Anda seyogyanya menghadiri kuliah itu).
- You ought not to be late again. (Anda sebaiknya tidak terlambat lagi).
(11) Need
Need bisa berfungsi sebagai auxiliary verb maupun sebagai ordinary verb. Sebagai auxiliary verb, need hanya digunakan dalam kalimat tanya (interrogative sentence) dan kalimat ingkar (negative sentence):
- Need he go? (Perlukah ia pergi?).
No he needn’t. (Tidak, ia tidak perlu pergi).
Yes he must. (Ya, ia perlu pergi).
*Yes, he need.
- She needn’t do it. (Ia tidak perlu melakukan hal itu).
- * I need come.
Untuk bentuk past tensenya kita harus menggunakn pola needn’t + past participle. Misalnya: - He needn’t have gone. Dalam kalimat ini terkandung pengertian bahwa ia sebenarnya tidak perlu pergi, tetapi ia sudah pergi; yang bisa diungkapkan dengan kalimat yang sepadan:
- It was not necessary for him to go, but he went.
Sedangkan sebagai ordinary verb, need mempunyai konjugasi (to) need – needed – needed; yang berarti memerlukan atau membutuhkan:
- They need a new house. (Mereka membutuhkan rumah baru).
- Do you need new shoes? (Perlukah engkau sepasang sepatu baru?).
Sedangkan perbedaan antara auxiliary verb dengan ordinary verb need berikut ini:
Auxiliary verb Ordinary verb
* He need go. He need to go.
He needn’t go He doesn’t need to go.
Need he go? Does he need to go?
- Yes he must. Yes, he does.
- No, he needn’t. No, he doesn’t.
Sedangkan untuk bentuk past tensenya:
He needn’t have gone. He didn’t need to go, yang berarti: It was not necessary yang berarti It was not necessary to go, to go, but he went. (Ia tidak perlu and he didn’t go. (Ia tidak perlu pergi, pergi, tetapi ia pergi).dan ia tidak pergi).
(12) Dare
Seperti need, dare pun bisa berfungsi auxiliary atau pun sebagai ordinary verb. Dan sebagai auxiliary verb dare berarti berani:
- She dare go out alone. (Ia berani pergi sendirian)
- She dare not speak a word. (Ia tidak berani berkata sepatah kata pun).
- Dare she do it? Yes, she dare. (Beranikah ia mengerjakan itu? Ya, ia berani). - How dare you say such a thing? (Betapa berani anda mengatakan hal itu?).
Sedangkan kalau dare berfungsi sebagai ordinary verb (dengan konyugasi (to) dare – dared – dared) bisa berarti dua pengertian, yakni (1) berani (to venture) dan (2) menantang (to challenge ):
- She dares to cross the river. (Ia berani menyeberangi sungai itu).
- I have never dared to speak to her. (Saya tidak pernah berani berbicara dengannya).
- She dered me to jump over the steam. (Ia menantang saya melompati selokan itu).
[Juga dare pun bisa berfungsi sebagai kata benda (noun) yang berani tantangan: - Can you take my dare? (Berani-kah anda menerima tantangan saya?)].
Amati baik-baik perbedaan antara auxiliary dan ordinary verb dare di bawah ini:
Auxiliary verb Ordinary verb
He dare go. He dares to go.
He daren’t go. He doesn’t dare to go.
Dare he go? Does he dare to go?
-Yes, he dare. Yes, he does.
-No, he daren’t. No, he doesn’t.
(13) Used
Used (to) digunakan untuk menunjukkan suatu kebiasaan yang terjadi dimasa lampau, tetapi sekarang sudah tidak dikerjakan lagi. Misalnya dalam: - He used to smoke, kalimat ini mengandung pengertian bahwa saya dahulu suka merokok, tetapi sekarang (saat dia berbicara) sudah tidak merokok lagi. Perhatikan contoh-contoh berikut ini:
- As a child I used to swim here. (Ketika kanak-kanak saya biasa berenang disini).
- She used to cry when she was a child. (Ia biasa menangis ketika kanak-kanak).
- I used to live in Cianjur. (Saya dahulu tinggal di Cianjur).
- She used to use a bicycle. (Ia biasa menggunakan sepeda dahulu).
Untuk bentuk negatifnya kita menggunakan pola used + not + to dan kadang-kadang tanpa d (use + not + to atau usen’t to):
- She used not to visit me. (Ia tidak bisa mengunjungi saya).
- They usen’t to live in Bandung. (Mereka dahulu tidak tinggal di Bandung).
Sedangkan untuk bentuk interogatifnya kadang-kadang digunakan kata bantu did. Amati contoh-contoh berikut:
- Did he used to help her? (Apakah ia biasa menolongnya?).
- Used she to visit you regulary? (Apakah ia biasa mengunjungi anda secara teratur?).
- He used to swim in the river, usedn’t he? (Ia biasa berenang di sungai, bukan?) atau
- He used to swim in the river, didn’ he?
Penggunaan used di atas harus dibedakan dengan used (bentuk past tense dari to use), to be used to yang berarti accustomed to (sudah menjadi terbiasa) atau to get used to (berusaha menjadi terbiasa dengan sesuatu).
Mari kita kaji contoh-contoh berikut ini:
- I used your car yesterday. (Saya memakai mobil anda kemarin).
- My grandfather used to visit me every Sunday. (Kakek biasa mengunjungi saya setiap hari Minggu).
- I’m used to getting up early. (Saya sudah biasa bangun pagi).
- You’ll get used to this cold climate. (Anda akan terbiasa dengan cuaca dingin ini).
(Istilah lain untuk secondary auxiliary verb ialah modal auxiliary).
